Guru mitra Kinerja menang Award Saparinah Sadli 2016

24 August 2016
Bondowoso, Jawa Timur

Seorang guru dan jurnalis warga dari salah satu sekolah mitra Kinerja USAID di Bondowoso, Jawa Timur, telah menang Award Saparinah Sadli yang bergengsi buat tahun 2016. Sri Wahyuningsih, yang biasanya dipanggil Ibu Sri, adalah salah seorang pendiri dan anggota Paguyuban Guru Peduli Kesehatan Reproduksi (PGP Kespro) yang berjuang untuk menghapus pernikahan anak di daerahnya.

Ibu Yuni mengajar siswa di SMP Tambanan di Bondowoso tentang bahayanya pernikahan dini. Walaupun pengetahuan kesehatan reproduksi (kespro) masih dianggap tabu, dia melakukan ini karena dia percaya bahwa tanpa informasi tersebut, tingkat pernikahan anak tidak dapat dikurangi.

“Alhamdulilah, [menang award ini] luar biasa tidak menyangk,” Ibu Yuni memberitahu Kinerja. "Karena memang saya melakukan ini karena panggilan hati. Tidak pernah terbesit sedikitpun akan dapat apresiasi luar biasa dari Award Saparinah Sadli!”

Ibu Yuni mengenal pertamakali tentang kespro dan pentingnya mencegah pernikahan anak ketika menjadi salah satu peserta pelatihan kespro yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) bekerjasama dengan Kinerja dan pemerintah daerah Bondowoso. Maraknya pernikahan anak di Bondowoso mendorong Ibu Yuni dan peserta pelatihan lain untuk membangun PGP Kespro sebagai wadah bersama untuk melakukan kampanye dan pendidikan kespro baik di sekolah, pengajian warga, pertemuan PKK maupun forum arisan warga. PGP Kespro sekaligus menjadi alat advokasi kepada tokoh masyarakat, kyai dan pemerintah untuk menghapus pernikahan anak di Bondowoso.

Saparinah Sadli, seorang aktivis gender yang memberi namanya kepada award tersebut, terlibat dalam pemilihan pemenang award pada tahun ini untuk pertama kali. Award ini mengakui perempuan yang berdampak positif dan inspirasional pada masyarakat. Pemenang sebelumya termasuk Maria Ulfah Anshor, mantan ketua umum Fatayat NU, dan Aleta Ba’un, seorang aktivis lingkungan hidup dari Timor Barat.

“Ini merupakan kali pertama saya terlibat memilih pemenang, yang terlibat aktif dalam penghapus pernikahan anak. Kelompok guru ini berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu di tempat tinggalnya melalui diseminasi informasi tentang risiko pernikahan anak kepada siswanya,” katakan Ibu Saparinah dikutip dalam The Jakarta Post.

“Saya senang bahwa walaupun kami menyoroti fakta dan dampak buruk dari pernikahan anak, kami juga menghargai guru yang selama ini selalu terlupa.”

Oleh karena kerja keras perempuan seperti Ibu Yuni, Bondowoso sudah berhasil dalam penurunan tingkat pernikahan dan kehamilan dini. Melalui dukungan dari Kinerja USAID dan LMS mitra seperti YKP dan Yayasan Kampung Halaman, tingkat pernikahan dini di Bondowoso sudah menurun 18% dari tahun 2012 sampai 2015, dari 2,734 pernikahan per tahun menjadi 2,250. Tingkat kehamilan dini juga menurun sebanyak 38%, dari 1,967 per tahun menjadi hanya 1,205. Penurunan drastic sebesar ini tidak pernah terlihat di Bondowoso.

Ibu Yuni mengatakan dia akan berbagi dana award – sebanyak Rp 50 juta – dengan PGP Kespro supaya mereka bisa tetap berjuang untuk menghapus pernikahan anak di Bondowoso.

“Tentunya [pemenangan hadiah] ini akan menambah semangat kami untuk terus bersolisiasi, tidak terbatas di sekolah tapi juga bisa meluas ke masyarakat.”

Back to Event page

 

Galeri Video

 
 
Situs Web ini dikembangkan oleh RTI International untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama no. AID-497-A-10-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency for International Development atau Pemerintah Amerika Serikat.
© 2011 RTI International. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat. RTI International adalah nama dagang dari Research Triangle Institute.